TUGAS UTS RESENSI BUKU
“Haji Sosial (Makna Simbol Haji Dalam Masyarakat)”
DOSEN PEMBIMBING
Bapak Study Rizal
Disusun Oleh :
Fadel Andhika Zulmi (11150530000053)
Jurusan Manajemen Dakwah 3/B
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Identitas Buku
Judul : Haji Sosial (Makna Simbol Haji Dalam Masyarakat)
Penulis : M. Amin Akkas
Penerbit : Mediacita
Tahun Terbit : 2007
Tebal : 254 Halaman
Harga : Rp.30.000
Resensi Buku Haji Sosial
Kehidupan beragama masyarakat pinggiran, studi ini diawali dari perkampungan betawi dipinggiran kota jakarta , yang dicirikan dengan gang gang kecil,lorong lorong sempit dan berliku liku yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain. Kampung makasar tempo dulu antara lain meluputi beberapa daerah perkampungan kecil yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan penduduk setempat.
Status haji didalam masyarakat makasar, sejak awal penduduk asli masyarakat betawi di kampung makasar sudah dikenal sebagai masyrakat religius yang sangat fanatik dalam kehidupan beragama dilingkungan keluarga mereka. Kebiasaan dalam ritual keagamaan dan kelompok kelompok sosial keagamaan sampai hari ini masih sangat kuat dan tetap bertahan dalam berbagai arena kehidupan sosial mereka.
Sedangkan simbolis haji didalam masyrakat terdapat simbol haji sebagai tanda “orang kaya”, entah dari mana simbol seperti itu muncul, tetapi menurut tradisi asyrakat betawi dimakasar orang orang yang telah menyandang gelar haji dipandang sebagai orang kaya di lingkungannya , hal ini mungkin karena biaya untuk pergi haji yang tidak murah. Proses konstruksi sebagai orang haji identik dengan orang kaya dalam arena sosial di perkampungan,semakin menguat melalui berbagai bentuk tindakan sosial ,dan dimanifestasikan dalam setiap peluang perkumpulan atau peristiwa.
Dan ada juga yang mengatakan “haji sebagai orang suci” persepsi dimasyrakat jika orang yang sudah pergi haji dikatakan orang yang suci itu sudah mentradisi “orang yang telah pergi haji dikatakan telah sempurna kehidupan agamanya, sehingga keberadaan mereka biasanya dipahami sebagai “orang suci”. Karena orang yang pergi haji disebut orang yang mendatangi tanah suci dan disana dia mengunjungi ka’bah serta tempat tempat keramat lainya, maka dari itu ketika ia pulang ketanah air di sambut dengan suasana kesucian dan disebut dengan “orang suci”.
Representasi simbol haji dimasyarakat kampung masyarakat, haji juga dipahami sebagai media “pembuktian” atas amal baik dan buruk sebelumnya. Pemahaman itu berkembang dari pengalaman keagamaan yang diperoleh para haji selama di tanah suci. Bagi mereka yang sebelumnya berperilaku kurang terpuji, selama proses haji berlangsung akan mengalami kesulitan,kehilangan barang,tersesat,atau dipukuli orang yang tidak dikenal, yang semua itu dikaitkan dengan perilaku buruk sebelumnya. Sebaliknya jika sebelumnya orang itu banyak melakukan kbaikan maka disana ia akan memperoleh pertolongan atas ganjaran kebaikan yang pernah ia perbuat sebelumnya.
Dalam konteks keseharian masyrakat makasar , haji memiliki status tersendiri. Di satu pihak terdapat rasa hormat yang tulus terhadap tindakan naik haji itu sendiri dan kharisma kesakralan relijius yang diperoleh melalui ibadah haji. Namun dilain pihak tidak sedikit pula yang tak terpuji karena perilakunya yang tidak menyenangkan bagi masyrkat sekitar.
Haji bagi masyarakat makasar ini merupakan predikat sekaligus simbol yang memiliki pengaruh nyata dalam realitas sosial, karena melaksanakan ibadah haji merupakan cita cita sepanjang hidup mereka dan sebagai puncak pemenuhan karier kehidupan didunia ini. Sebagai predikat sebutan “haji” identik dengan ”orang suci” atau “sosok agamis”. Hal itu tidak terlepas dari pemahaman dalam masyrakat setempat menjadikan haji sebagai gelar keagamaan / sebutan yang menandakan dan menentukan tingkat religiustas seseorang. Mereka bahkan menjadikan haji sebagai mahkota yang melambakan “kesalehan” seseorang dalam berperilaku sosial. Karena apabila seseorang telah melaksanakan ibadah haji maka bisa dikatakan orang tersebut sepenuhnya dianggap muslim. Dan bagi masyrakat makasar sendiri jika sesorang yang telah pergi haji dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi dibadingkan dengan anggota anggota masayarakat secara umum.
Karena didalam dunia sosial orang-orang yang berpredikat haji dikampung makasar, seorang haji tetap dapat mempertahankan dan bahkan memperbaiki posisinya dalam arena dunia sosial mereka bukan dikarenakan kelebihan dalam hal kapital ekonomi, tapi karena kehajiannya serta kemampuan mereresentasikan simbol simbol haji itu didalam kenyataan objektif masyarakat setempat. Karena jika seorang haji telah pensiun,sudah tidak menempatkan kedudukan penting dalam strata sosial dimasyrakat karena tak lagi memiliki jabatan, tapi karena telahbergelar atau berpredikat haji maka secara umum orang tersebut masih ditempatkan sebagai orang yang terhormat. Simbol simbol yang melekat pada “haji” itu bersifat open acces dan telah menjadi milik publik yang dapat diakses oleh dan dari berbagai lapisan dan strata sosial dalam masyrakat. Sedangkan persepsi haji sebagai patronase publik dengan demikian dapat dikatakan sebagai sesuatu yang memiliki dan dapat menjadi sesuatu potensi kekuatan (force) tersendiri yang sangat dinamis dan senantiasas mengalami proses pergeseran , pertumbuhan dan perkembangan sesuai tingkat diferensi yang terjadi dalam masyrakat. Mereka yang telah berpredikat haji merasa malu jikalau tidak menghadiri setiap aktivitas sosial keagamaann tersebut, dan merasa kurang sempurna agama keislamaannya jika tidak melaksanakan shalat lima waktu dimasjid.
• Kelebihan Buku
Kelebihan dari pada buku ini menurut saya sebagai pembaca yaitu buku ini sangat jelas dan rinci menjelaskan apa itu arti dari haji sosial itu sendiri, karena disini dipaparkan secara detail apa itu makna-makananya, seperti pengertian haji sosial, simbol simbol haji dimasyarakat , peran dan fungsi predikat haji didalam masyarakat serta kewajiban orang haji ketika melaksanakan haji maupun ketika dia sudah pulang ke tanah air.
dan yang saya lebih suka dari buku ini bukan saja menjelaskan apa itu pengertian dari haji sosial tetapi disini juga dijelaskan sejarah haji sosial sejak dahulu (perkampungan makasar masyarakat betawi) mulai dari munculnya makna haji sosial di kampung itu hingga berpengaruhnya / terpengaruhnya makna - makna haji sosial hingga zaman sekarang ini. Bahasa yang digunakan penulis dalam buku ini menggunakan bahasa yang jelas, ya memang terkadang ada bahasa / kata kata yang mudah untuk dipahami, tetapi kebanyakan penulis menggunakan bahasa yang jelas, tidak berbelit- belit sehingga pembaca juga mudah untuk memahaminya.
• Kekurangan Buku
Setelah saya selesai membaca buku ini saya menemukan kekurangan didalam buku ini yaitu diantaranya penulis terkadang masih menggunakan atau mencantumkan bahasa - bahasa yang kurang untuk dimengerti untuk pembaca- pembaca yang masih awam.
• Kesimpulan
Menurut saya buku ini sangat layak untuk dibaca karena ber haji tidak hanya sekedar ibadah semata melainkan berhaji merupakan pemaknaan haji pada akhirnya sangat ditetukan oleh konteks sosial. Bagaimana seorang haji menjadi lebih baik didalam masyrakatnya, diantaranya semakin memiliki keperdulian serta kepekaan terhadap sesama didalam masyarakatnya. Karena jika orang selepas haji itu memiliki kepekaan dan keperdulian yang bagus terhadap sesama maka dari itu orang itu bisa dikatakan tawadhu.
Daftar Buku Yang Dilist
1. Nama Buku : Haji Sosial
a. Penulis :M.Amin Akkas
b. Penerbit : Mediacita
2. Nama Buku : Ilmu kalam
a. Penulis : Ahmad rifa’i zen
b. Penerbit : Cv Arya Duta
3. Nama Buku : sejarah kebudayaan islam
a. Penulis : Drs. Rusli Ishak
b. Penerbit : Pt karya toha putra
4. Nama Buku : Dakwah Islam
a. Penulis : Prof. Dr. Murodi, M.A.
b. Penerbit : Kencana Prenadamedia group
5. Nama Buku : Haji Umrah dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah
a. Penulis : Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
b. Penerbit : Departemen Urusan Keislaman
6. Nama Buku : Risalah Pergerakan Islam
a. Penulis : Mustafa Muhammad Thahan
b. Penerbit : Visi
7. Nama Buku : Manajemen Dakwah
a. Penulis : M.Munir , S.Ag. MA
b. Penerbit : Kencana
8. Nama Buku : Komunikasi Dakwah
a. Penulis : Wahyu Illahi M.A
b. Penerbit :Rosda
9. Nama Buku : Pengantar Manajemen
a. Penulis : Dian Wijayanto, Spi, M.M,Mse
b. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama